Dalam rantai pasok On
Sepatu mahal,
pekerja dengan upah rendah,
dan serikat pekerja yang tak kenal takut
“Ketika saya mendengar bahwa PHK akan dibatalkan, saya menangis.” Duduk di kursi plastik di luar kafe dekat pintu masuk pabrik Yihong, tempat kami mengatur pertemuan, Suryana menikmati apa yang terasa seperti kemenangan yang diraih dengan susah payah. Pria berusia 30 tahun ini bekerja di sebuah pabrik sepatu di wilayah Cirebon, Jawa Barat, Indonesia – tiga hingga empat jam perjalanan dengan mobil ke arah timur dari Ibu kota, Jakarta. Suryana, ayah dari seorang anak berusia 18 bulan dan sekretaris serikat pekerja SBDI-KASBI, beserta istrinya, yang juga pernah bekerja di PT. Yihong, telah hidup tanpa penghasilan tetap selama 11 bulan, bergantung pada bantuan orang tuanya untuk bertahan hidup.
Namun, Senin, 6 April 2026, hari kami bertemu, menandai titik balik penting: Enam minggu setelah 40 anggota serikat pekerja yang dipecat dipekerjakan kembali, 24 anggota yang lain akhirnya kembali bekerja hari ini.
“Saat mendengar PHK dibatalkan, saya menangis”
- Suryana, pekerja pabrik
Hari pemulihan jabatan terakhir: Para aktivis serikat pekerja perempuan ...
Hari pemulihan jabatan terakhir: Para aktivis serikat pekerja perempuan ...
… berkumpul di depan pabrik pada pagi hari tanggal 6 April 2026.
… berkumpul di depan pabrik pada pagi hari tanggal 6 April 2026.
Sekitar jam 7 pagi, para pekerja mulai berdatangan ke gerbang pabrik dengan mengendarai sepeda motor. Sekitar selusin orang berdiri di dekat kafe, semuanya mengenakan kaos berwarna merah marun dengan logo bintang kuning serikat pekerja di bagian depan dan, di bagian belakang, dengan huruf besar di atas dua kepalan tangan yang disilangkan, slogan 'Lawan Union Busting'.
Kebanggaan, kelegaan, dan kegembiraan yang dipicu oleh kemenangan itu terlihat di wajah para pekerja. Tepat pukul 7.30, para penjaga membuka gerbang besi yang berat dan para pekerja berbaris masuk.
Banyak dari mereka sudah lama kehilangan kepercayaan bahwa mereka akan kembali ke lantai pabrik, namun disinilah mereka, kembali bekerja.
Banyak dari mereka sudah lama kehilangan kepercayaan bahwa mereka akan kembali ke lantai pabrik, namun disinilah mereka, kembali bekerja. “Saya tidak tahu apakah ada kasus lain seperti ini,” kata Syarip Aripin, seorang ahli di organisasi Indonesia Lips, sebuah kelompok penelitian dan advokasi yang mempelajari hak-hak buruh.
Jika kemenangan itu bukan hal yang biasa, tambah Syarip, maka reaksi para pemilik pabrik Yihong ketika para pekerja mulai berorganisasi pada awal tahun 2025 sama sekali tidak biasa.
Seperti banyak pabrik tekstil dan alas kaki di Indonesia, pabrik Yihong tempat Suryana bekerja dimiliki oleh investor Tiongkok. Perusahaan ini merupakan subkontraktor untuk pabrik-pabrik yang lebih besar yang memasok brand-brand olahraga terkemuka dunia: Brooks, New Balance, Under Armour, Asics – dan On, sebuah brand Swiss yang berkembang pesat. Penjahitan dilakukan di pabrik lain yang dikenal sebagai Long Rich, pemasok langsung produk On yang berlokasi sekitar 30 km dari Yihong. Di sisi lain, Yihong mengkhususkan diri dalam proses pencetakan dan pewarnaan yang kompleks yang membutuhkan keahlian dan peralatan khusus.
“Teknik Swiss” Buatan Indonesia
Tugas Suryana adalah memasang label, termasuk tulisan 'Swiss Engineering', secara manual. Label tersebut bisa saja bertuliskan 'Made in Indonesia' – tulisan itu sendiri sama-sama dibuat di Asia seperti halnya logo salib Swiss, yang menghiasi sepatu yang dijual di Swiss sejak On berhasil memaksa Swiss Federal Institute of Intellectual Property (Institut Kekayaan Intelektual Federal Swiss) untuk mengalah pada bulan Maret setelah tekanan yang intens.
Dengan bantuan pekerja seperti Suryana, penjualan On meningkat pesat: Pada tahun 2025, dirgahayu ke-15 perusahaan, pendapatan perusahaan melonjak sebesar 36% menjadi sekitar 3,75 Dolar AS untuk pertama kalinya.
Meskipun desainnya—dan, bahkan yang lebih penting lagi, pemasarannya—adalah dari Swiss, namun, sepatu-sepatu tersebut dibuat di Asia, oleh para pekerja yang upah bulanannya seringkali hampir tidak setara dengan harga sepasang sepatu yang dijual di Swiss. Dari harga sekitar 250 Dolar AS untuk model standar di toko-toko Swiss, hanya sekitar 25 hingga 30 Dolar AS yang masuk ke perusahaan produsennya. Distribusi nilai yang sangat tidak merata ini menghasilkan jutaan dolar bagi pemilik perusahaan — sedangkan para pekerjanya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
1.126 PHK dalam semalam
Gelombang emosi yang dialami Suryana dan rekan-rekannya pada awal tahun 2026 berakar sekitar setahun sebelumnya. Saat itulah para pekerja mulai memperjuangkan hak-hak mereka.
Saat itu, pabrik Yihong di Cirebon telah beroperasi selama tiga tahun, dan ketidakpuasan di kalangan pekerja semakin meningkat. Mereka mengecam berbagai bentuk penyalahgunaan, diantaranya pelecehan oleh supervisor, lembur yang tidak dibayar, dan tidak adanya kontrak tertulis bagi lebih dari separuh pekerja. Namun, penolakan perusahaan untuk memberikan kompensasi yang layak kepada karyawan kontrak berdasarkan hukum Indonesia-lah yang menyebabkan meledaknya ketidakpuasan tersebut. Saat itu, Suryana dan rekan-rekannya melaporkan pelanggaran hukum ketenagakerjaan kepada pengawas ketenagakerjaan daerah. Beberapa hari kemudian, mereka membentuk serikat pekerja SBDI, yang berafiliasi dengan konfederasi serikat pekerja KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia).
Hal ini membuat manajemen pabrik langsung bereaksi. Dengan menggunakan praktik yang umum di Indonesia, mereka menekan para pekerja untuk bergabung dengan serikat pekerja yang dibentuk secara tergesa-gesa dan dikendalikan perusahaan. Mereka yang menolak meninggalkan SBDI-KASBI dipecat melalui beberapa gelombang. Pada awal Maret, situasi semakin buruk, setelah sekretaris serikat, Suryana, dan ketuanya Krisma, bersama seorang pengurus serikat pekerja lainnya turut diberhentikan, spontan protes pun terjadi.
Pada pagi hari tanggal 10 Maret, para pekerja yang tiba di gerbang besi mendapati pabrik tersebut tutup. Di pintu masuk yang terkunci, sebuah daftar pemecatan memuat nama seluruh 1.126 pekerja. Keesokan harinya, pemilik mengatakan bahwa mereka terpaksa menutup lokasi tersebut, dengan alasan pembatalan pesanan yang mereka salahkan pada apa yang mereka sebut sebagai pemogokan ilegal. Namun, menurut beberapa keterangan saksi, produksi terus berlanjut secara lambat, dengan adanya pekerja asing yang dibawa ke pabrik menggunakan truk.
Kampanye yang menargetkan para pekerja
Akibat protes tersebut, para pekerja yang diberhentikan mendapati diri mereka menanggung beban kampanye agresif di media sosial yang bertujuan untuk mendiskreditkan mereka, sebuah taktik yang hingga saat itu hanya terlihat dalam politik. Dalam operasi yang jelas-jelas terkoordinasi, para influencer mendorong narasi manajemen, menyiratkan bahwa anggota serikat pekerja yang dipecatlah yang harus disalahkan atas penutupan pabrik tersebut.
Dalam pemberitaan media, para pekerja digambarkan sebagai pembuat onar yang perilakunya melemahkan perekonomian daerah. Pesan tersebut mendapat sambutan baik. Cirebon adalah salah satu pusat industri baru – didukung oleh pemerintah daerah dan nasional dalam upaya menarik perusahaan-perusahaan berorientasi ekspor.
Jawa adalah salah satu pulau terpadat di dunia dan merupakan jantung industri ekspor Indonesia.
Cirebon, berlokasi sekitar empat jam perjalanan dengan mobil ke arah timur Jakarta, merupakan salah satu kawasan industri baru dimana upah jauh lebih rendah daripada di Jakarta.
Di Long Rich - pemasok langsung On, bagian-bagian sepatu lari disambung. Sub-supplier Yihong menangani proses pewarnaan dan pengaplikasian print.
Ini adalah tahap terbaru dalam sebuah proses yang dimulai di ibu kota Jakarta antara akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an. Pada saat itu, Presiden Suharto meluncurkan kebijakan untuk membangun industri berorientasi ekspor, dengan biaya tenaga kerja rendah sebagai daya tarik utama. Namun, pada awal tahun 2000-an, kenaikan harga tanah dan upah mempersulit model tersebut. Produksi mulai berpindah ke sepanjang koridor jalan tol yang membentang ke timur dari Jakarta, dengan munculnya zona industri baru di kawasan pertanian.
Model pembangunan ini telah menimbulkan konsekuensi kemanusiaan yang dramatis, baik sekarang maupun di masa lalu, seperti yang digambarkan secara gamblang oleh Dian Septi dari organisasi buruh Asia Floor Wage Alliance (AFWA) dalam sebuah studi. Menurut penelitian tersebut, pengangguran di daerah-daerah tradisional Indonesia mendorong perempuan masuk ke dalam lingkaran prostitusi, menghancurkan keluarga, dan membiarkan anak-anak untuk berjuang hidup sendiri. Di Cirebon, Suryana telah menyerukan agar perusahaan-perusahaan yang berproduksi di wilayah ini untuk turut memikul porsi beban sosial mereka (perusahaan): “Industri menggeser pertanian dan perikanan, yang dulunya menjadi tumpuan hidup masyarakat di sini,” katanya. “Jika perusahaan-perusahaan ini angkat kaki, hampir tidak akan ada yang tersisa untuk kami hidup.”
Sejak tahun 2023, brand pakaian olahraga Swiss, On, juga mulai berproduksi di zona produksi baru ini. Meskipun Vietnam tetap menjadi pusat produksi utamanya, sekitar 10% sepatunya kini diproduksi di Indonesia. Tidak seperti Vietnam, yang pasar tenaga kerjanya kini sebagian besar jenuh, Indonesia (dan khususnya pusat-pusat industri barunya) menawarkan tenaga kerja muda dalam jumlah yang besar, serta upah minimum yang lebih murah – menjadikan negara kepulauan ini sangat menarik bagi brand-brand internasional.
Sebuah kompleks seluas 40 kali lipat lapangan bola
Atas undangan serikat pekerja KASBI, kami mengunjungi kantor mereka di lokasi pabrik Long Rich, sekitar 30 km dari pabrik Yihong. Kata "pabrik" terasa kurang pas untuk menggambarkan tempat ini.
Sebuah kompleks dengan luas sekitar 55 hektar, setara dengan sekitar 40 lapangan sepak bola, Long Rich memiliki 29 aula produksi, beberapa gedung administrasi, sebuah masjid, dan klinik darurat. Di depan tiga aula tersebut, terpampang logo On yang besar dan menarik perhatian. Tidak seperti subkontraktor mereka, pabrik-pabrik besar biasanya menampilkan brand yang mereka gunakan dan secara teratur muncul dalam daftar pemasok yang diterbitkan oleh brand-brand tersebut. Menurut beberapa ahli di Indonesia dari serikat pekerja dan LSM, pabrik-pabrik yang lebih besar umumnya mematuhi standar hak-hak buruh – sesuatu yang tidak banyak dialami oleh subkontraktor.
Duduk mengelilingi meja di depan dinding yang dipenuhi simbol dan slogan sayap kiri, perwakilan KASBI menunjukkan rasa kekhawatiran. Seorang pekerja, yang namanya kami samarkan agar terlindungi dari pembalasan, menyebutkan tentang “suasana intimidatif di seluruh bagian gedung”. Ia menjelaskan: “Tekanannya sangat besar karena target produksi yang sangat tinggi, dan para pengawas menghabiskan waktu dengan meneriaki kami,” menambahkan bahwa masalah ini meluas di semua aula produksi di lokasi tersebut. Namun, terlepas dari itu, sebagian besar hak formal buruh dihormati: para pekerja diberi kontrak yang layak, kerja lembur mereka dibayar, dan diizinkan untuk berorganisasi secara bebas.
Meskipun mungkin tampak paradoks, fakta ini telah memicu kecemasan. Anggota serikat pekerja khawatir akan terulangnya pola yang terjadi di zona industri lain di negara ini: brand-brand memindahkan produksinya semakin ke timur, dimana biaya – dan tingkat keanggotaan serikat pekerja – lebih rendah.
Perbedaan upah minimum sah yang signifikan antar wilayah merupakan pendorong utama relokasi ini. Sebagai tanggapan, KASBI dan serikat pekerja lainnya telah meluncurkan kampanye dengan slogan yang jelas – 'Brand yang sama, upah yang sama' – menuntut upah yang sama untuk pekerjaan yang setara, terlepas dimanapun lokasi produksinya. Di Cirebon, tempat pabrik Yihong berada, misalnya, upah minimum bulanan saat ini sebesar 2,9 juta Rupiah Indonesia, atau sekitar 162 Dolar AS. Angka itu hampir setengah dari upah di wilayah Jakarta, yang mencapai 5,7 juta Rupiah. Perbedaan ini tidak bisa dibenarkan, kata Birga, yang bertanggung jawab atas upah di KASBI Long Rich: “Makanan dan kebutuhan pokok lain di Cirebon tidak lebih murah dibandingkan di Jakarta.”
Di pemasok langsung, Long Rich, beberapa aula khusus memproduksi sepatu On.
Di pemasok langsung, Long Rich, beberapa aula khusus memproduksi sepatu On.
Bagian dari komplek pabrik, kantor serikat KASBI di Lokasi Long Rich,
Bagian dari komplek pabrik, kantor serikat KASBI di Lokasi Long Rich,
Zaenal, ketua KASBI Long Rich, di kantor serikat dalam Kawasan pabrik.
Zaenal, ketua KASBI Long Rich, di kantor serikat dalam Kawasan pabrik.
Pekerja Long Rich saat istirahat makan siang.
Pekerja Long Rich saat istirahat makan siang.
“Tanpa lembur, tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan”
- Tita, pekerja pabrik
Duduk di karpet ruang tamu rumah tempatnya tinggal bersama ibunya, sekitar 10 menit naik sepeda motor dari pabrik Yihong, Tita yang berusia 21 tahun menjelaskan apa arti hidup dengan upah minimum. Sebagai operator mesin di Yihong, Ia telah dipekerjakan kembali enam minggu sebelum kami bertemu di awal April. “Saya sangat senang dan bersyukur,” katanya. Tetapi ketika ditanya tentang upah bulanannya sebesar 2,9 juta Rupiah, jawabannya jelas: “Itu tidak cukup. Biaya hidup di Cirebon terlalu tinggi.”
Dahulu, Tita mencukupi kebutuhan hidupnya melalui upah lembur. “Sebelum dipecat, saya bisa menghasilkan hingga 4 atau 5 juta Rupiah sebulan – tetapi itupun hanya karena atasan saya melanggar batas jam kerja mingguan 40 jam yang ditetapkan oleh undang-undang,” jelasnya. Lembur adalah satu-satunya cara baginya untuk membayar cicilan sepeda motor – pengeluaran besar yang setara dengan hampir enam kali upah minimum bulanan. Namun, tanpa transportasi umum yang memadai, dia tidak bisa hidup tanpa sepeda motor itu.
Tita menjelaskan rincian anggarannya. Dari total upahnya, 700.000 Rupiah diberikan kepada orang tuanya dan 500.000 Rupiah kepada adiknya yang masih bersekolah, dan sisanya digunakan untuk pengeluaran sehari-hari: makanan, produk kebersihan, bensin untuk sepeda motor, dan kebutuhan harian lainnya.
“Dulu saya juga menabung agar adik saya bisa kuliah suatu hari nanti,” katanya. Tita sendiri sebenarnya ingin kuliah. Tidak seperti orang-orang lain yang kami temui dari daerah ini, dia fasih berbahasa Inggris. “Tapi waktu itu Covid terjadi dan orang tua saya tidak sanggup membiayai,” tambahnya.
Dalam Laporan Keberlanjutan 2025 mereka (tautan), On sendiri menyatakan bahwa upah minimum nasional seringkali tidak cukup “untuk memastikan standar hidup yang layak”. Perusahaan tersebut menambahkan lebih lanjut: “Kami percaya bahwa setiap pekerja dalam rantai pasok kami berhak atas upah layak yang adil.” Pada tahun 2023, brand tersebut menetapkan tujuan bahwa pada akhir tahun 2025, semua produsennya akan membayar upah layak – namun, ini hanya terbatas pada pemasok utama dan tidak termasuk operasional di hilir seperti Yihong. Bagi Borga, seorang perwakilan serikat pekerja KASBI Long Rich, kesenjangan antara niat On dan realita di lapangan sangat mencolok. Ia mengatakan bahwa operator mesin di pabrik, misalnya, hanya dibayar upah minimum sah, yang jauh dibawah upah layak.
Organisasi buruh AFWA telah lama menjadi salah satu suara terdepan dalam isu ini. Sekitar 20 tahun yang lalu, bersama dengan sejumlah serikat pekerja di Kawasan Asia, organisasi nirlaba ini mengembangkan metode untuk menghitung tingkat upah yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar (lihat bagan). Sekarang, angka tersebut ditetapkan sebesar 9 juta Rupiah per bulan (500 Dolar AS – atau hampir tiga kali lipat pendapatan Tita).
Dalam laporan keberlanjutannya, On mengutip dua metode perhitungan lain, yaitu metode Global Living Wage Coalition (GLWC) dan Wage Indicator Foundation (WIF), namun tanpa menyebutkan jumlah yang digunakan untuk Indonesia. Untuk wilayah Cirebon, hanya WIF yang menerbitkan perkiraan, dan jumlahnya kira-kira separuh dari upah layak yang dihitung oleh AFWA.
Pada kenyataannya, banyak pekerja berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Menurut sebuah studi AFWA, hal ini terjadi pada empat dari lima orang dalam sektor tekstil Indonesia. Wiranta Ginting, pakar upah layak dari organisasi tersebut, mengatakan bahwa tidak ada data yang sebanding untuk produksi sepatu. Namun, konsekuensi yang disebabkan oleh upah yang jauh di bawah layak dimanapun sama saja, tambahnya: “pekerjaan yang tidak tetap, ketergantungan pada lembur yang berlebihan, berhutang, dan ketidakamanan finansial yang terus-menerus.”
Menahan berarti mempertaruhkan segalanya
Bagi para anggota SBDI - KASBI yang dipecat, tantangan utama adalah mencari penghasilan. Yihong dengan cepat mulai merekrut kembali, tetapi menolak untuk menerima kembali mereka yang tidak mau meninggalkan serikat pekerja. Bagi Suryana, Tita, dan sekitar 100 rekan kerja lainnya, menyerah dan menerima pemecatan bukanlah pilihan. Akibatnya: tidak ada kompensasi dan tidak ada tunjangan pengangguran. Mereka harus berjuang dan bertahan. Dalam beberapa bulan berikutnya, 48 pekerja akhirnya menyerah dan menerima pemecatan mereka.
Serikat pekerja menyerukan dukungan internasional.
Menindaklanjuti rujukan dari SBDI-KASBI, pengawas tenaga kerja wilayah menyimpulkan selama mediasi pada bulan April dan Mei 2025 bahwa PHK tersebut melanggar hukum dan meminta agar para pekerja yang terdampak dipekerjakan kembali. Yihong mengabaikan permintaan tersebut – dan membalas dengan mengajukan pengaduan terhadap para pemimpin serikat atas apa yang mereka sebut sebagai "pemogokan yang melanggar hukum".
Akhirnya, SBDI -KASBI meminta dukungan dari Clean Clothes Campaign (CCC). Jaringan tersebut membentuk kelompok kasus, bersama serikat dan Public Eye, untuk memperbaiki situasi tersebut.
Kelompok investigasi memutuskan untuk menghubungi brand-brand tersebut. Menurut kesaksian dari para pekerja yang dikumpulkan oleh KASBI, perusahaan-perusahaan ini melakukan operasi pencetakan dan pewarnaan di Yihong melalui pabrik Long Rich. Tanggapan terhadap kelompok investigasi beragam: Under Armour membantah memiliki hubungan dengan subkontraktor; Asics menghindari tanggung jawab, dengan mengatakan bahwa mereka tidak lagi berproduksi di lokasi tersebut sejak 15 Maret 2025 – tepat setelah PHK massal – dan oleh karena itu hanya memiliki sedikit pengaruh di sana; On, Brooks, dan New Balance mengatakan mereka akan menyelidiki tuduhan tersebut.
Jumlah pesanan turun 60 hingga 70%.
Tak lama setelah CCC menghubungi brand-brand tersebut, volume pesanan anjlok sebesar 60 hingga 70%, menurut manajemen Yihong. Sementara itu, On memberi tahu CCC bahwa mereka menangguhkan pesanan hingga perselisihan tersebut diselesaikan. Pada 7 Januari 2026, pengaduan Yihong tentang "pemogokan ilegal" ditolak oleh pengadilan setempat. Manajemen kemudian berbalik arah: Pada pertemuan dengan serikat pekerja pada 16 Januari, mereka meminta maaf dan berjanji untuk mempekerjakan kembali anggota serikat pekerja yang masih di-PHK.
Setelah menunggu selama dua minggu, kesepakatan antara SBDI -KASBI dan Yihong ditandatangani setelah putaran kedua negosiasi. Perusahaan berjanji tidak hanya akan mempekerjakan kembali para pekerja, tetapi juga akan membayar sebagian dari upah mereka yang hilang – delapan dari sebelas bulan – dan untuk menghentikan tindakan hukum lebih lanjut.
Saat itulah Suryana menangis tersedu-sedu. Tita juga sulit mempercayai berita itu: “Sejujurnya, saya sudah kehilangan harapan.” Meskipun begitu, belum saatnya untuk merayakan. Walaupun respon dari brand-brand tersebut jelas memaksa perusahaan untuk mengambil tindakan, para pekerja kini menjadi khawatir bahwa Yihong mungkin akan tutup selamanya, sehingga seluruh tenaga kerja akan kehilangan pekerjaan. Untungnya, kekhawatiran itu terbukti tidak beralasan.
Kesalahan Yihong
Pada hari Senin, 6 April 2026, 24 mantan karyawan gelombang terakhir yang masih menganggur menandatangani kontrak permanen baru dan kembali ke posisi mereka. Pada hari itu, Public Eye berada di kantor manajemen Yihong bersama para pemimpin SBDI-KASBI dan dua perwakilan dari On. Perwakilan perusahaan tersebut telah melakukan perjalanan dari Vietnam atas undangan CCC.
Direktur eksekutif Yihong, yang menggunakan nama Carter, berbicara mewakili atasannya, Jack Feng, yang merasa tidak nyaman berbicara dalam bahasa Inggris. “Kami telah belajar dari kesalahan kami,” kata petinggi perusahaan berusia 62 tahun itu berulang kali. Kemudian dia menambahkan: “Kesalahan bodoh seperti itu, jangan sampai terjadi lagi!”. Situasi tersebut mencerminkan kata-kata yang sebelumnya diucapkan oleh sekretaris serikat, Suryana: "Bagi manajemen, brand-brand itu seperti dewa."
Dalam percakapan sebelumnya dengan Public Eye, Carter – yang telah berpengalaman lebih dari 30 tahun di industri alas kaki di Tiongkok, Vietnam, dan Indonesia – banyak berbicara tentang “kesalahpahaman” dan “masalah komunikasi” lainnya. Kali ini, nadanya jauh lebih kritis terhadap diri sendiri. Seolah mengatakan apa yang Ia pikirkan, dia mengakui: “Menuntut pekerja kita sendiri. Sungguh bodoh!”
Dalam percakapan sebelumnya dengan Public Eye, Carter – yang telah berpengalaman lebih dari 30 tahun di industri alas kaki di Tiongkok, Vietnam, dan Indonesia – banyak berbicara tentang “kesalahpahaman” dan “masalah komunikasi” lainnya. Kali ini, nadanya jauh lebih kritis terhadap diri sendiri. Seolah mengatakan apa yang Ia pikirkan, dia mengakui: “Menuntut pekerja kita sendiri. Sungguh bodoh!”
Apakah semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya?
Tiga pemimpin serikat pekerja yang berbicara dengan Public Eye – Darja, Suryana, dan Krisma – dengan suara bulat menegaskan bahwa, sejauh yang mereka ketahui, kesepakatan tersebut dihormati. Bersama rekan-rekan mereka, mereka mengambil risiko yang cukup besar dan membayar harga yang mahal, menghabiskan satu tahun penuh memperjuangkan pekerjaan mereka. Tetapi hari ini, mereka berbicara tentang kemenangan besar yang mereka harapkan akan menjadi contoh dan membantu memperkuat gerakan serikat pekerja independen di Indonesia.
Di Yihong, masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki, para pekerja melaporkan kurangnya peralatan pelindung yang memadai, kesulitan dalam menggunakan hak mereka untuk cuti sakit, dan waktu yang terlalu pendek untuk istirahat ke toilet dan beribadah, yang sangat penting bagi pekerja yang mayoritasnya Muslim. Manajemen perusahaan telah menjanjikan perbaikan; sekarang, kerja sama dengan SBDI-KASBI diperlukan untuk memastikan bahwa perubahan ini diterapkan. Dan hanya waktu yang akan menjawab apakah para aktivis serikat pekerja akan kembali menghadapi diskriminasi di masa depan atau tidak.
Niki Gamara, Koordinator Urgent Appeal di Asia Tenggara (lihat kotak), menyoroti komitmen yang gigih dan berani dari para anggota serikat pekerja. Namun, ia mencatat bahwa kasus ini mungkin tidak akan berhasil tanpa tanggapan dari tiga brand pakaian olahraga – On, Brooks, dan New Balance – terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh subkontraktor mereka. “Apa yang seharusnya menjadi norma masih terlalu sering diabaikan,” katanya. Niki Gamara berpendapat terkait kerja sama yang lebih erat antara serikat pekerja dan brand, serta mekanisme permanen yang memungkinkan pelanggaran dilaporkan langsung ke brand dan ditangani dengan cepat. Ia menunjukkan bahwa hal ini akan membuat perbedaan besar dalam kasus Yihong. “ Meskipun penyelesaian kasus ini berjalan luar biasa dan menggembirakan bagi 64 anggota serikat pekerja yang dipekerjakan kembali—bagi 48 lainnya, hasil tersebut sudah terlambat,” katanya. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh fakta bahwa mereka yang bertanggung jawab tampaknya baru mengetahui kasus ini pada akhir musim gugur 2025 melalui CCC – meskipun sudah banyak diberitakan di media online Indonesia.
Saatnya On memberikan hasil
Untuk memenuhi janji tanggung jawab sosial dalam rantai pasokan mereka, On dan brand pakaian olahraga lainnya harus memastikan bahwa hak-hak pekerja dihormati di semua fasilitas di seluruh rantai pasok mereka ke depannya. Brand On yang berkembang pesat, yang memasarkan dirinya sebagai "Swiss" dan mengklaim bahwa hak asasi manusia adalah "prioritas utama", harus memimpin upaya ini. Secara khusus, perusahaan harus memenuhi janjinya bahwa upah layak dibayarkan di seluruh rantai pasokannya – tidak hanya di pemasok langsungnya, tetapi juga di subkontraktor.
KASBI telah meminta On untuk menandatangani protokol Kebebasan Berserikat antar serikat pekerja dan brand terkait kebebasan berserikat, dan untuk terlibat dalam diskusi tentang upah. Ini akan menjadi langkah awal yang penting untuk memastikan bahwa semua pihak yang memproduksi sepatu mahal – yang jauh dari perdebatan tentang "keunikan karakter Swiss" – juga ikut menikmati keuntungan dari bisnis sepatu olahraga bernilai miliaran dolar, setidaknya mereka mendapatkan penghasilan yang cukup untuk hidup bermartabat.
Tanggapan On
Dalam pernyataan kepada Public Eye, On mengatakan bahwa mereka sedang berdiskusi dengan PT Long Rich untuk mengatasi kesenjangan upah. Mereka juga menyatakan bahwa mereka sedang dalam proses "mengevaluasi" "kelayakan" untuk memperluas target upah layak di rantai pasokan mereka ke subkontraktor. Dalam menghitung upah layak, On mengikuti metodologi yang menghasilkan target upah yang jauh lebih rendah daripada target aliansi serikat pekerja AFWA. Namun, mereka menambahkan, mereka "sepenuhnya terbuka dan tertarik" untuk terlibat dalam dialog mendalam dengan serikat pekerja dan organisasi pendukung mereka mengenai topik upah dan hak-hak pekerja.
Terkait tuduhan tekanan dan intimidasi berlebihan di Long Rich, On menyatakan bahwa investigasi terbarunya tidak mengungkapkan adanya penyalahgunaan tersebut, tetapi pihaknya menanggapi tuduhan tersebut dengan serius dan akan menyelidikinya dalam investigasi selanjutnya.
Lebih lanjut, On mengakui dalam pernyataannya bahwa kasus Yihong menunjukkan bahwa proses audit mereka untuk fasilitas dalam rantai pasokan mereka tidak memadai. Untuk memastikan mereka mendapat informasi tepat waktu di masa mendatang, mereka telah menugaskan perusahaan eksternal untuk menerapkan pemantauan berkelanjutan, dan mereka juga akan meningkatkan prosedur pengaduan di pabrik-pabrik.
Kami akan terus berusaha dan menuntut akuntabilitas On untuk menepati janjinya.
LSM Swiss Public Eye menyajikan analisis kritis mengenai dampak yang ditimbulkan oleh Swiss, beserta perusahaan-perusahaannya, terhadap negara-negara yang kurang beruntung secara ekonomi. Melalui penelitian, advokasi, dan kampanye, Public Eye juga menuntut penghormatan terhadap hak asasi manusia dan lingkungan hidup di seluruh dunia. Dengan dukungan kuat dari sekitar 29.000 anggota, Public Eye berfokus pada keadilan global.
Impressum
Teks: Florian Blumer, kerja sama: David Hachfeld
Terjemahan ke bahasa Indonesia: Devi Skarcita
Penyuntingan: Dinda Z. Wahid
Foto & Video: Muhammad Fadli/PANOS, Florian Blumer
Ilustrasi: opak.cc
Pengembangan web: Tim Haag
